ADA APA DENGAN DEMO TURKI?

Standard
National Election Campaign Banner for PM Recep...

National Election Campaign Banner for PM Recep Tayyip Erdogan – Justice and Development Party – Gaziantep – Turkey – 02 (Photo credit: Adam Jones, Ph.D. – Global Photo Archive)

by @AryaSandhiyudha

*penuturan saksi mata

#demoTurki yang digelar 48jam sudah usai. Pesertanya tidak banyak, hanya radikal dan cirinya mudah ditebak. -1

selama 2 hari saya dan beberapa kawan hampir tidak menghindari tempat #demoTurki itu, sebab ada agenda dekat2 situ. -2

yang diberitakan #demoTurki protes tentang taman kecil area penghijauan yang mau dibuat mall. Apa benar? -3

Ada 3 fakta sejati dibalik #demoTurki ini: penghijauan, alkohol, oposisi AKP-Erdogan -4

Taman itu disebut area hijau krn punya ±30 pohon, tapi FYI Erdogan & pemerintah AKP selama memimpin bangun 120 hutan. #demoTurki -5

mereka yang #demoTurki juga tidak peduli urusan penghijauan, slogan paling sering diteriakkan “Turunkan Erdogan!” -6

Spanduk & Bendera #demoTurki yang mereka bawa sejak awal demo bukan simbol pro-penghijauan, semua caci maki AKP & “turunkan Erdogan” -7

apa yang jadi pemicu #demoTurki? ini mobilisasi orang dan pihak yang awalnya protes aturan ulang pembelian Alkohol -8

Padahal bukan larangan jual-beli Alkohol, hanya aturan pembelian minuman beralkohol di Turki diperbaharui. #demoTurki -9

Di draft UU baru diatur pembelian minuman beralkohol dibatasi hingga jam tertentu. Seperti negara Eropa lain #demoTurki -10

Seperti cara minum, misalnya tidak boleh minum sambil berjalan, mengemudi mobil, & tidak boleh membeli diatas jam tertentu. #demoTurki -11

ini kan juga disulut oleh protes dari perusahaan bir terbesar di Turki, Efes, yang hampir monopoli 80% pasaran. #demoTurki -12

Efes Pilsen, ini perusahaan yang berkembang di Izmir, daerah yang sampai sekarang jadi satu-satunya basis suara dari oposisi. #demoTurki -13

Efes ini beranak-pinak secara perusahaan Becks, Miller, Warstiener & Fosters. Jadi #demoTurki ini berawal dari bar-bar -14

Fakta ketiga #demoTurki ini, selain soal “manipulasi isu” Penghijauan, & “solidaritas” komunitas bar-bar, ialah Oposisi -15

AKP ialah partai yang memimpin dan kepercayaan tinggi. punya 327 kursi dari total 550. #demoTurki – 16

Sebagaimana di Indonesia yang jelang Pemilu, tahun depan rencananya Pemilu Presiden pertama digelar. #demoTurki – 17

Beralih dari Parlementer ke Presidensil, Erdogan diprediksi 90% akan terpilih. Jadi #demoTurki ini soal oposisi. -18

karena alasan-alasan inilah, justru #demoTurki malah semakin tidak mendapatkan simpati dari masyarakat luas. -19

#demoTurki tak lain memudahkan untuk menghitung % konsumen yang ngotot alkohol tidak dbatasi jam pembeliannya. -20

dan #demoTurki sejak awal sudah disetting rusuh, bukan seperti partai di Indonesia yang kalau demo bahkan bisa sambil bawa anak tamasya -21

Jika saja #demoTurki ini lebih konstruktif & murni tentu substansi kritik rutin tema apapun terhadap AKP perlu. -22

Sayang demonstran hanya meledak “marah” hanya urusan ‘sepele’ saat dibatasi jam beli alkohol-nya. #demoTurki -23

Meski jauh berubah lebih indah sejak dipimpin AKP, Istanbul -terutama- masih punya fakta kesenjangan. #demoTurki -24

Masih ada rumah liar, sementara segelintir rumah mewah untuk yg super kaya. 95% tinggal vertikal di apartemen sederhana. #demoTurki – 25

Harusnya kalau oposisi mau efektif raih simpati rakyat, tema perumahan yang jadi tema demo #demoTurki -26

Pemerintah AKP, sejak berkuasa di 2002, telah memulai proyek terpuji “Toki” (Pembangunan Perumahan Administrasi Turki). #demoTurki -27

Lembaga ini instrumen negara beli tanah dari petani untuk bangun rumah, lalu keuntungannya utk sekolah, shopping center & RS. #demoTurki -28

jadi masyarakat miskin banyak diberi rumah dari sini. Jadi memang di Istanbul berkurang hijau, demi rakyat miskin #demoTurki -29

#demoTurki harusnya bisa mengkritik bagian ini, bagaimana perencanaan taman dan daerah hijau yang lebih baik. -30

Sayang, #demoTurki fokus tema elitis & alkohol, jadi partisipan-nya segelintir yang punya mobil & anak malam. Hanya bertahan 48jam -31

jadi pelajaran dari #demoTurki, Oposisi selain gagal menemukan isu & menyusun argumentasi solusi, akhirnya juga gagal menularkan emosi. -32

dan militansi demonstran “sekuler” disini hanya ada di akhir pekan. Hari kuliah & kerja ga sudi bolos Sekian tentang #demoTurki. -33

http://chirpstory.com/li/83469

Advertisements

Seminar Peradaban: Sebuah Catatan

Standard
Image
Depok Islamic Study Circle (DISC) adalah organisasi di bawah naungan Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) kampus Universitas Indonesia (UI) Depok yang mengkaji pemikiran dan peradaban Islam. Salah satu program andalan DISC ialah kajian pekanan intensif yang hingga kini masih berjalan. Yang unik dalam kajian ini biasanya fokus pada pembahasan satu buah buku. Tentu buku yang dikaji bukan buku sembarangan. Sejauh yang saya ketahui setidaknya buku “Islam dan Sekularisme” salah satu master piece karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan “Misteri Masa Kelam Islam” telah tuntas dibahas. Kabarnya, kini DISC tengah dalam proses menelaah buah karya Al-Attas lain berjudul “Risalah untuk Kaum Muslimin”.

Tak puas dengan agenda rutin dan dalam rangka sosialisasi, DISC menginisiasi dihelatnya sebuah seminar peradaban dengan tajuk “Hutang Barat terhadap Islam: Memahami Kontribusi Islam bagi Peradaban Barat” di Auditorium Gedung Komunikasi, FISIP UI Jum’at (17/5) siang. Adalah Yon Machmudi, Ph.D, Adnin Armas, M.A., dan Chairuddin Razak, B.Sc. yang didapuk menjadi pemateri dalam seminar ini.

Mendapat giliran kedua, Adnin Armas menyampaikan materi tentang sumbangsih Islam dalam peradaban Barat dalam bidang filsafat. Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini membuka dengan mengutip pernyataan Prof. George Sarton (Harvard University). Sejarawan sains terkemuka itu pernah menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan Muslim menandingi sepak terjang para ilmuwan Yunani pada eranya. Adnin juga mengutip pengakuan Ibn Sina dalam autobiografinya bahwa ia berhasil memahami tujuan metafisika bukan karena membaca karya Aristoteles, melainkan setelah membaca karya Al-Farabi.

Adnin menutup sesinya dengan melakukan compare and contrast antara contoh buah pikiran filosof Barat dengan filosof Muslim. Hasilnya, beberapa teori Rene Descartes (1596-1650), David Hume (1711-1776), dan Isaac Newton (1642-1727) amat mirip dengan apa yang telah dirumuskan Ibn Sina (980-1037), Imam Ghazali (1058-1111), dan Fakhruddin Ar-Razi (1149-1210). Apakah ini sebuah kebetulan belaka?

Senada dengan Adnin, Chairuddin Razak pun turut membeberkan hutang peradaban Barat terhadap peradaban Islam dalam bidang sains. Chairuddin menuturan kisah pribadi dirinya bergelut dengan dunia eksakta. Menurutnya, memang hanya Islamlah agama yang mampu melahirkan ilmu dalam berbagai sendi kehidupan. Ilmu pengetahuan alam adalah hanya salah satunya. Sepakat dengan Adnin, alumnus Universitas Al-Azhar ini pun menyatakan bahwa aspek spiritualitas adalah pembeda kentara antara dua peradaban ini.

Atmosfer ruangan agak naik ketika sesi tanya jawab dibuka. Dua penanya melontarkan beberapa pertanyaan cerdas. Salah satu yang menarik perhatian ialah mengenai ‘klaim’ Islam bahwa Barat telah berhutang. Jangan-jangan Islam hanya transisi pasca Yunani sebelum peradaban dunia dipegang oleh Barat. Mereka pun berbalik menyatakan peradaban Islam berhutang kepada peradaban Yunani yang telah ada lebih dulu.

Dengan cerdas, ketiga pemateri pun mampu membalikkan logika pertanyaan tersebut. Kata Adnin, terlalu banyak contoh yang menunjukkan kebenaran apa yang diucapkan George Sarton di awal. Temuan ilmuwan Muslim terbukti original dan lebih komprehensif ketimbang ilmuwan Yunani. Memang ada beberapa temuan masa Yunani yang menjadi bahan kajian ilmuwan Muslim, tapi itu kemudian ditimbang dengan kaidah Islam. Dengan perantara wahyulah para ilmuwan Muslim ini mampu berbuat lebih. Sementara Chairuddin menyatakan fakta tentang stagnasi peradaban Barat hari ini membuktikan bahwa kemajuan ini bukan murni hasil jerih payah mereka. Bandingkan dengan kala peradaban belum dirampas dari genggaman Islam. Tak ada stagnansi saat itu, yang ada hanyalah perkembangan secara berkelanjutan, ujarnya. Lalu Yon menambahkan peradaban Islam yang hingga mencapai ribuan tahun tentu lucu kalau dianggap hanya transisi. Justru kita patut curigai peradaban Barat yang kini mulai oleng. Padahal Barat baru menguasai peradaban tiga atau empat abad belakangan ini.

Saat closing statement dari masing-masing pemateri tak kalah menarik. Pernyataan Yon Machmudi adalah yang paling berkesan menurut saya. Dosen FIB serta pengamat dunia Timur Tengah dan Islam UI ini bertutur:

“Kajian sejarah dan peradaban Islam itu penting dilakukan. Ini bukan semata romantisme sejarah dan untuk menagih hutang terhadap Barat. Tidak perlu ditagih karena kitalah sebenarnya pewaris yang sah akan peradaban dunia ini. Ini tinggal menunggu waktu saja. Gaung yang menyuarakan hal ini tetap mutlak diperlukan sembari menyiapkan diri dan menanti saatnya tiba. Sebagaimana Al-Fatih yang pada gilirannya mampu menaklukan Konstantinopel, sejak kecil selalu didengungkan kepadanya bahwa dialah orang yang Rasulullah SAW maksud dalam sabdanya akan menjadi penakluk Konstatinopel.”

Penulis: Nur Afilin

Sumber: http://eramadina.com/seminar-peradaban-disc-sebuah-catatan/

JOHAN BUDI dan FAHRI HAMZAH

Image

Save KPK 04

Sesuai penuturan saksi mata dan saksi hidup, Hanibal Wijayanta

Ada dua orang dalam dua posisi yang berbeda, dan kini dianggap tengah berseteru hebat. Padahal mereka sesungguhnya punya akar yang sama. Kebetulan saya pernah mengenal mereka berdua saat memulai karier. Semoga setelah sedikit mengenal keduanya, teman-teman bisa lebih adil.

KPK Booth Including Interactive Tutorial

JOHAN BUDI SP

Ada yang mempertanyakan ke mana Jurubicara KPK yang alot, ulet dan dingin ini pada tahun 1998. Tahun 1998 Johan sudah menjadi wartawan di Forum Keadilan… Sebelumnya dia bekerja di perusahaan petrokimia, sesuai dengan jurusannya saat kuliah. Johan memulai kariernya sebagai wartawan, dua tahun setelah saya di Forum Keadilan. Johan kemudian pindah ke Tempo sebelum saya. Dari dulu, gayanya memang kadang agak menyebalkan. Tapi sebagai seorang wartawan, saya mengakui bahwa Johan cukup kritis, dengan gaya wawancara yang alot, dan dengan tulisan yang cukup baik.

Ketika saya mulai bergabung di Tempo tahun 2000, saya memimpin Tempo Interaktif, sebagai embrio Tempo News Room. Saat itu Johan menjadi Kepala Biro Jakarta di Majalah Tempo. Ketika Koran Tempo dibentuk, saya dipercaya menjadi Redaktur Bidang Nasional di Koran Tempo, sementara Johan menggantikan saya sebagai Kepala Tempo News Room. Ketika saya mendapatkan tugas belajar ke Australia di tahun 2003, Johan pula yang menggantikan saya sebagai Redaktur Bidang Nasional. Tak lama setelah saya pulang dari Australia, Johan ternyata bergabung ke KPK. Gaya Johan yang alot, ulet dan dingin saat mewawancarai narasumber, rasanya cukup tepat dengan posisinya sebagai juru bicara KPK.

Mohon dicatat juga bahwa dulu, ketika masih menjadi staf redaksi saya di Forum Keadilan, Johan pernah bercerita kepada saya, bahwa ketika kuliah dia sering mengikuti liqo dan kajian-kajian di Jamaah Tarbiyah. Karena kesibukannya sebagai wartawan dia kemudian mengaku agak jarang “ngaji”. Namun, selama bergaul dengan saya, saya tahu Johan punya keberpihakan kepada Islam, terutama Jamaah tarbiyah. Di Tempo yang punya budaya sekuler kuat, Johan adalah salah satu wartawan yang tidak pernah lupa shalat lima waktu.

Prosperous Justice Party

FAHRI HAMZAH

Saya mulai mengenal Fahri Hamzah saat masih menjadi mahasiswa, bersama-sama dengan beberapa aktivis dari berbagai perguruan tinggi di Jawa, seperti Anis Baswedan dan Ismail Yusanto dari Jamaah Shalahuddin, Almarhum Indra Hardi Kangiden dan Imam Musthofa dari Unpad, Andi Wahju Wibisana dari Unbraw, Wahju Murjadi dari Unair, Fatchul Hidajat, Farhat Umar dan Adian Husaini dari IPB, Buroqi Tarich dari ITB, Adhyaksa Dault, Sabrun Jamil dan kawan-kawan dari Asrama PGT, dan lain-lain.

Saat itu kami sering bertemu dan menggagas koordinasi dan kerjasama antar aktifis muda Islam. Itu sebelum Fahri dan kawan-kawan dari Jamaah Tarbiyah membentuk KAMMI. Pada pertemuan-pertemuan itu Fahri mengenalkan diri sebagai aktivis Masjid Arif Rahman Hakim UI. Pada saat itu saya melihat Fahri sebagai aktifis muda yang cuek, dan tidak terlalu banyak bicara. Saya tidak tahu apakah karena yang hadir banyak yang lebih senior atau sifatnya dulu memang begitu.

Ketika Fahri muncul bersama KAMMI, saya sudah di Forum Keadilan. Saat itu saya mulai melihat dia sebagai sosok tokoh muda dari Jamaah Tarbiyah. Beberapa kali saya kontak-kontakan dan mewawancarai dia dalam berbagai masalah. Kesan saya saat itu Fahri adalah sosok yang santun dan jauh dari kesan congkak dan sombong. Saat reformasi 1998 di depan publik Fahri Hamzah selalu tampak menempel ke Mas Amien Rais. Tapi saya tahu, Fahri Hamzah juga terus menggalang kekuatan dengan teman-teman Jamaah Tarbiyah, hingga akhirnya kemudian membentuk Partai Keadilan.

Ketika musim reformasi berlangsung, semua orang mulai berani teriak, karena itu, Fahri Hamzah yang cerdas dan saat itu masih cukup santun dalam berbicara, menjadi tidak terlalu istimewa di mata pers. Sebagai tokoh PK dia masih sangat Junior, sementara KAMMI saat itu juga belum terlalu besar. Masih banyak anak-anak muda galak lainnya yang lebih menarik diwawancarai seperti Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Dita Indah Sari, dan sebagainya.

Selama beberapa tahun saya tidak berhubungan dengan Fahri Hamzah. Saya justru kemudian agak tercengang, ketika mendengar beberapa cerita underground maupun cerita background tentang dia. Dan kini, saya pun menjadi semakin takjub dengan gayanya di depan kamera…

===

*Bagian dari seri #JanganLupaSejarah

Save KPK 04

JILBAB atau HIJAB?

Standard
Lady wearking jilbāb Zanzibar (cropped from or...

Lady wearking jilbāb Zanzibar (cropped from original) (Photo credit: Wikipedia)

Bagi umumnya ummat muslim di Indonesia, pakaian penutup aurat wanita lazim dikenal dengan istilah jilbab. Sebagaimana istilah halal bil halal yang sangat berkesan Arab tapi hanya ada di budaya muslim Indonesia, jilbab tidak terlalu dikenal oleh muslim di luar Indonesia. Istilah yang umum dipakai oleh muslim manca Negara, terutama di timur tengah, Eropah dan Amerika, adalah hijab. (Lihat di sini atau di sini)

Jilbab sendiri sebenarnya berasal dari al-Qur’an, tepatnya dari ‘ayat jilbab’ yaitu Surat Al-Ahzab [33], ayat 59.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [33:59]

Kata yang digunakan adalah ‘J-L-B-y-n-h-n’ atau diucapkan (=dibaca) ‘jalaabiinihinna’ yang – oleh Depag – diterjemahkan sebagai ‘jilbabnya’, yaitu sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada (lihat footnote no 1233, h. 678, pada terjemah al-Qur’an versi Depag, al-Qur’an dan Terjemahnya, cetakan Kerajaan Arab Saudi, 1420H).

Dengan demikian, jelas bahwa jilbab memang bukan seperti ‘halal bil halal’ yang tidak jelas asalnya. Dalam bahasa Arab sendiri, jilbab memang bagian dari kosa kata. Dalam kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir, pada entry huruf ‘ja/jim’ di kata dasar J-L-B, di halaman 199, terdapat kata ‘al-jallabiyya(h/-tu)’ dan ‘al-jilbaab(un)’ yang terjemahannya adalah ‘baju kurung panjang, sejenis jubah’. Dan mengingat bahwa kata itu sudah dikenal di masa Rasulullah, tentu ‘jilbab’ bukanlah hal yang asing.

Di ayat lain yang juga menjadi ayat yang menjadi landasan hukum wajib menutup aurat bagi wanita muslim, kata yang digunakan adalah ‘khumur’, yaitu pada Surat An-Nur [24], ayat 31. Karena cukup panjang, saya kutip bagian yang relevan, sesuai terjemah al-Qur’an versi Depag, al-Qur’an dan Terjemahnya, cetakan Kerajaan Arab Saudi, 1420H:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘… dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, … dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [24:31]

Dalam kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir, pada entry huruf ‘kho’ di kata dasar Kh-M-R, di halaman 367, tertera beberapa makna dari kata dasar Kh-M-R (yang bisa dibaca ‘khomaru’ atau ‘khomaro’ atau ‘khomroon’) yaitu di antaranya ‘menutupi’, ‘,menyembunyikan’, ‘merahasiakan’, ‘merasa malu (kepada)’. Dan di halaman 368 terdapat kata asal ‘al-khimaaru’ dengan derivatifnya ‘khumur(un)’ dan ‘akhmaarotun’ yang artinya adalah tutup atau tudung untuk menutup kepala perempuan.

Dari asal katanya, maka ‘khumur’ yang dalam terjemah al-Qur’an versi Depag diterjemahkan sebagai ‘kain kudung’ memiliki fungsi menutupi, menyembunyikan dan merahasiakan, juga merasa malu (kepada) dan tidak sekadar menutup yang sekenanya saja tapi masih memperlihatkan bagian kepala, yaitu rambut. Istilahnya kerudung ‘nempel’ yang sering kali merosot a la Benazir Bhutto.

Baik jilbab maupun khimar, keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu menutupi bagian kepala hingga dada perempuan agar aurat mereka tertutup, tersembunyi dan terjaga rahasianya dari tatapan mata manusia, dan terhindar dari rasa malu kepada manusia akibat terbukanya aurat. Dengan kata lain, sebagaimana ‘mukena’ yang dikenakan perempuan di Indonesia yang berfungsi menutup aurat, jilbab dan hijab juga sama.

Lalu bagaimana dengan Hijab yang sering dipertukarkan dengan Jilbab? Kata hijab dalam al-Qur’an muncul di 8 tempat berbeda, yaitu pada Surat-surat Al-A’raaf [7] (ayat 46), Al-Israa’ [17] (ayat 45), Maryam [19] (ayat 17), Al-Ahzab [33] (ayat 53), Shaad [38] (ayat 32), Fushshilat [41] (ayat 5), Asysyuura [42] (ayat 51) dan Al-Muthaffifiin [83] (ayat 15). Kemunculan kata ‘hijab’ dalam semua tempat ini adalah dalam bentuk dasar ‘Ĥa-Ja-Alif-Ba’ maupun derifatnya. Semuanya memiliki makna tabir atau suatu penghalang sehingga tidak bisa tampak oleh penglihatan. Artinya semuanya bermakna konkrit sebagai tabir, kecuali di Surat 38 ayat 23 dan Surat 41 ayat 5, yang bersifat kiasan.

Dari semua ayat di atas tidak ada satupun kata hijab yang mengacu kepada menutup aurat sebagaimana pada kata Jilbab dan Khumur. Akan tetapi saya pribadi melihat bahwa cakupan kata hijab mengalami perluasan, yaitu ketika yang diambil adalah konsep ‘tabir’ atau ‘pembatas’ yang menghalangi pandangan mata manusia. Tapi pada saat yang sama, pengertian ini sekaligu ‘menyempitkan’ dan memunculkan makna baru yaitu segala sesuatu yang menutupi aurat wanita, yang berarti termasuk jilbab dan khumur.

Dengan demikian, saat ini saya menyimpulkan tidak ada salahnya menggunakan Jilbab atau Hijab selama yang dimaksud adalah jelas. Bagi yang ingin tahu lebih lanjut pendapat lain bisa ke http://akmal.multiply.com/journal/item/432. Dan yang penting saya kira adalah bagaimana kita yang beriman (demikian Allah menyapa kita di kedua ayat di atas) bersedia mematuhi dan menjalankan firman-NYA.

(informasi lain bisa di lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Jilbab dan http://en.wikipedia.org/wiki/Hijab)

Allahu a’lam

 

https://www.facebook.com/notes/satriyo-boediwardoyo/jilbab-atau-hijab-yaa-/10150278438072659

https://www.facebook.com/notes/satriyo-boediwardoyo/jilbab-atau-hijab-ya-/446494447658

Saya ambil dari tulisan di blog saya di http://peaceman.multiply.com/journal/item/183/JILBAB_atau_HIJAB_yaa_…_

Jakarta, 24 Januari 2007

Ulama or Clergy?

Standard
Clergy 1

Clergy 1 (Photo credit: celesteh)

multaqo Ulama 1

multaqo Ulama 1 (Photo credit: abi hasan)

Ulama or Clergy?

Ulama or clergy? Meaning, what actually is ulama?

We are all aware that ulama (from Arabic ‘ulama, sing. ‘alim) is a traditionally Islamic term and consequently no precise rendering can be found in other languages or cultures. The English translation most commonly accepted for ulama is ‘clergy’ or ‘cleric.’ But is it really so? We do know that clergy is mainly referring to anything related to the Church, i.e. Christianity. So accepting uncritically that ulama actually bears the same meaning as clergy is like accepting Islam as an equal of Christianity or of any other religion. The fact is it’s not! (But regarding what Islam is, is another story)

‘Ulama comes from the root word ‘ilm, or ‘knowledge’ in general, which in itself constitutes linguistically of the roots ‘ayn-lam-mim. These roots are derived from ‘alamah, meaning “a mark, sign, or token, by which a thing or person is known; a cognizance, or a bandage; a characteristic; an indication; a symptom.” Hence, ma’lam (plu. ma’alim) which means “sign of the way” or “that by which one guides oneself or  by which oneself is guided”. Similarly, ‘alam also signifies “a way mark for guidance (see E. W. Lane, Arabic-English Lexicon, s.v. ‘ilm).” The ones with ‘ilm are, thus, called ‘ulama. In the Qur’an, surah Fatir (35), verse 28, Allah states that ‘ulama are only those amongst the pious whose knowledge enable them to be fearful (taqwa) of Him.

“And of men and beasts and cattle there are various colours likewise. Those of His servants only who are possessed of knowledge fear Allah. Surely Allah is Mighty, Forgiving.” *

So, taqwa is the main characteristic of ‘ulama. Other characteristics that set ‘ulama apart from clergy are:

1) knowledge (resulting in taqwa), for by definition, ‘ulama is men of knowledge who fears Allah whereas clergy (man of religion or rijal al-din) means a group of people ordained to perform pastoral or sacerdotal functions in a Christian church, or the official or sacerdotal class of a non-Christian religion (see Miriam-Webster’s Dictionary, clergy, cleric) and are vested with so called ‘divine authority’ (al-haqq al-ilahi);

2) in terms of quantity, ‘ulama is not limited and open to anyone able to acquire ‘ilm (that is, knowledge resulting in taqwa), while clergy is not for they are selected and has exclusivity to the positions;

3) ‘ulama does not only refer to acquiring religious knowledge as it is commonly perceived contemporarily, but also to other science or discipline deemed ‘secular’ or non-religious (a sadly dualistic perspective indeed!) such as math, chemistry, history, psychology, etc (no wonder many, if not all, classical ulamas – especially during the height of Islamic civilization – are polymaths!) while clergy deals with only Church or religious matters;

4) in terms of function, ‘ulama is the progeny (warathat) of the prophets (anbiya’) with the only difference being they are not ‘sin-free’ (ma’shum) as are prophets and, unlike prophets, are unable to establish direct communication with God;

Lastly, 5) clergy are measured by their ‘holiness’ while ‘ulama are by their sound mind and logic of argument; so, ‘ulama are not recognized due to their ‘holiness’ or divine stature but by the knowledge they posses (see Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, and Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas: an Exposition of the Original Concept of Islamization).

Interestingly enough Miriam-Webster’s Dictionary defines ulama, or ulema, as 1) (pl in constr) the body of mullahs, and 2) mullah. And ‘mullah’ is defined as an educated Muslim trained in traditional religious law and doctrine and usu. holding an official post. It states that the word ulama was first recorded to be used as early as 1688, originating from the Arabic ‘ulama; while ‘mullah’ as early as 1613, from the Arabic ‘mawla’.

Islam does not recognize hierarchy in terms of ‘knowledge of religion’ as that of clergy in Christianity or other religions. So, what of ‘ustadz’ or ‘imam’ or ‘syaikh’? Besides ‘imam’ which actually simply means ‘leader’, they are but popular terms referring to those deemed ‘more knowledgeable’ in usually religious matters and similar in meaning with ‘teacher’ or ‘professor’. Though they may also be taken for ulama, whether or not that is the case depends entirely on how they best fit the characteristics. But none of them are stated by Allah in the way ulama is.

It is wise to always be aware that there is not always one on one translation of a word or expression from one language to another, especially when it deals with certain concept or epistemology. Our beloved prophet points this is out when he says that when a person speaks Arabic fluently then he is an Arab. In other words, in terms of ‘ethnicity’ tongue is what actually defines who you are and not really so much as blood. For a language is very much related to and a part of a culture and civilization.

Now we know where and how ‘some’ Muslims abusively used mullah to refer to ‘ulama and to mean ‘clergy’ as if Islam recognizes such position!

Wallaahu a’lam!

Taken from:

http://peaceman.multiply.com/journal/item/324/Ulama_or_Clergy

https://www.facebook.com/notes/satriyo-boediwardoyo/ulama-or-clergy/10150492932307659

*) http://en.wikisource.org/wiki/The_Holy_Qur%27an_%28Maulana_Muhammad_Ali%29/35._The_Originator

February 11, 2010

Five takeaways from Pew’s comprehensive study on Islam

Standard

CNN Belief Blog

By Dan Merica, CNN

Washington (CNN) – A Pew Research Center study released Tuesday takes an in-depth look at Islam, including how Muslims around the world view extremism, sharia law and the meeting of religion and politics.

The study is a four-year effort by Pew, which conducted 38,000 face-to-face interview in 80-plus languages for the survey. In total, 39 countries and territories were included, all of which had over 10 million Muslims living there.

Here are the report’s five major takeaways:

View original post 844 more words