JOHAN BUDI dan FAHRI HAMZAH

Image

Save KPK 04

Sesuai penuturan saksi mata dan saksi hidup, Hanibal Wijayanta

Ada dua orang dalam dua posisi yang berbeda, dan kini dianggap tengah berseteru hebat. Padahal mereka sesungguhnya punya akar yang sama. Kebetulan saya pernah mengenal mereka berdua saat memulai karier. Semoga setelah sedikit mengenal keduanya, teman-teman bisa lebih adil.

KPK Booth Including Interactive Tutorial

JOHAN BUDI SP

Ada yang mempertanyakan ke mana Jurubicara KPK yang alot, ulet dan dingin ini pada tahun 1998. Tahun 1998 Johan sudah menjadi wartawan di Forum Keadilan… Sebelumnya dia bekerja di perusahaan petrokimia, sesuai dengan jurusannya saat kuliah. Johan memulai kariernya sebagai wartawan, dua tahun setelah saya di Forum Keadilan. Johan kemudian pindah ke Tempo sebelum saya. Dari dulu, gayanya memang kadang agak menyebalkan. Tapi sebagai seorang wartawan, saya mengakui bahwa Johan cukup kritis, dengan gaya wawancara yang alot, dan dengan tulisan yang cukup baik.

Ketika saya mulai bergabung di Tempo tahun 2000, saya memimpin Tempo Interaktif, sebagai embrio Tempo News Room. Saat itu Johan menjadi Kepala Biro Jakarta di Majalah Tempo. Ketika Koran Tempo dibentuk, saya dipercaya menjadi Redaktur Bidang Nasional di Koran Tempo, sementara Johan menggantikan saya sebagai Kepala Tempo News Room. Ketika saya mendapatkan tugas belajar ke Australia di tahun 2003, Johan pula yang menggantikan saya sebagai Redaktur Bidang Nasional. Tak lama setelah saya pulang dari Australia, Johan ternyata bergabung ke KPK. Gaya Johan yang alot, ulet dan dingin saat mewawancarai narasumber, rasanya cukup tepat dengan posisinya sebagai juru bicara KPK.

Mohon dicatat juga bahwa dulu, ketika masih menjadi staf redaksi saya di Forum Keadilan, Johan pernah bercerita kepada saya, bahwa ketika kuliah dia sering mengikuti liqo dan kajian-kajian di Jamaah Tarbiyah. Karena kesibukannya sebagai wartawan dia kemudian mengaku agak jarang “ngaji”. Namun, selama bergaul dengan saya, saya tahu Johan punya keberpihakan kepada Islam, terutama Jamaah tarbiyah. Di Tempo yang punya budaya sekuler kuat, Johan adalah salah satu wartawan yang tidak pernah lupa shalat lima waktu.

Prosperous Justice Party

FAHRI HAMZAH

Saya mulai mengenal Fahri Hamzah saat masih menjadi mahasiswa, bersama-sama dengan beberapa aktivis dari berbagai perguruan tinggi di Jawa, seperti Anis Baswedan dan Ismail Yusanto dari Jamaah Shalahuddin, Almarhum Indra Hardi Kangiden dan Imam Musthofa dari Unpad, Andi Wahju Wibisana dari Unbraw, Wahju Murjadi dari Unair, Fatchul Hidajat, Farhat Umar dan Adian Husaini dari IPB, Buroqi Tarich dari ITB, Adhyaksa Dault, Sabrun Jamil dan kawan-kawan dari Asrama PGT, dan lain-lain.

Saat itu kami sering bertemu dan menggagas koordinasi dan kerjasama antar aktifis muda Islam. Itu sebelum Fahri dan kawan-kawan dari Jamaah Tarbiyah membentuk KAMMI. Pada pertemuan-pertemuan itu Fahri mengenalkan diri sebagai aktivis Masjid Arif Rahman Hakim UI. Pada saat itu saya melihat Fahri sebagai aktifis muda yang cuek, dan tidak terlalu banyak bicara. Saya tidak tahu apakah karena yang hadir banyak yang lebih senior atau sifatnya dulu memang begitu.

Ketika Fahri muncul bersama KAMMI, saya sudah di Forum Keadilan. Saat itu saya mulai melihat dia sebagai sosok tokoh muda dari Jamaah Tarbiyah. Beberapa kali saya kontak-kontakan dan mewawancarai dia dalam berbagai masalah. Kesan saya saat itu Fahri adalah sosok yang santun dan jauh dari kesan congkak dan sombong. Saat reformasi 1998 di depan publik Fahri Hamzah selalu tampak menempel ke Mas Amien Rais. Tapi saya tahu, Fahri Hamzah juga terus menggalang kekuatan dengan teman-teman Jamaah Tarbiyah, hingga akhirnya kemudian membentuk Partai Keadilan.

Ketika musim reformasi berlangsung, semua orang mulai berani teriak, karena itu, Fahri Hamzah yang cerdas dan saat itu masih cukup santun dalam berbicara, menjadi tidak terlalu istimewa di mata pers. Sebagai tokoh PK dia masih sangat Junior, sementara KAMMI saat itu juga belum terlalu besar. Masih banyak anak-anak muda galak lainnya yang lebih menarik diwawancarai seperti Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Dita Indah Sari, dan sebagainya.

Selama beberapa tahun saya tidak berhubungan dengan Fahri Hamzah. Saya justru kemudian agak tercengang, ketika mendengar beberapa cerita underground maupun cerita background tentang dia. Dan kini, saya pun menjadi semakin takjub dengan gayanya di depan kamera…

===

*Bagian dari seri #JanganLupaSejarah

Save KPK 04

Advertisements